Setelah sekian lama temenan sama lia, aku tu ngerasa sayang banget ma dia. Cuman ada yang dia gak suka dari aku. Bahwa aku tu peminum dan perokok. Tiap aku maen kerumahnya, aku pasti minum sama teman – teman di Pulau Bali. Awalny dia gak protes, cuman saat aku minum sama teman – teman, dia langsung masuk dan banting pintu kamar. Awalny aku gak ngerti kenapa?! Tapi setelah waktu berlalu, akhirny dia bilang kalau dia gak suka liat aku minum dan merokok. Aku gak nanggepin, dan aku bilang inilah jalan hidupku. Emang dari dulu aku senang minum. Dia gak marah, cuman aku ngerasa dia makin jauhin aku. Aku gak pernah mikirin hal itu, sampai akhirnya ada kakak tingkatku di IKIP yang berusaha deketin dia dan sok perhatian ma dia. Saat itulah muncul rasa yang gak bisa lagi aku tahan. Ingin rasanya aku ungkapin rasa itu, tapi tiap ketemu dia malah perasaan grogiku gak terkontrol. Aku gak bisa ngontrol kata yang ingin aku ungkapin. Sampai akhirnya aku diberi support ma harry untuk berani bilang “aku sayang dia”. Pas dia kuliah malam, aku nungguin dia di depan LAB komputer. Disanalah aku bilang bahwa aku sayang ma dia dan aku mau dia jadi pacar aku. Tapi sebelum itu aku nyuruh dia nunggu agar teman – teman semua pada pulang. Setelah teman – teman pulang, aku baru bilang hal itu ke dia. Dengan perasaan yang gak karuan aku nyatain perasaanku ke dia. Dan dia gak ngasi keputusan tentang itu. Dia bilan gkalau dia pengen mikir dulu karena itu terlalu cepat untuknya. Oke, aku bersedia menunggu sampai dia memberi keputusan dan jawaban untuk pertanyaanku itu. Setelah aku nembak dia, aku nginep di tempatnya jro dan arus. Aku nginep sama harry dan hendrik. Saat itu aku akrab dengan hendrik (teman sekelas lia). Saat itu aku cerita sama hendrik kalau aku suka sama lia. Hendrik support aku juga untuk terus berusaha dapetin lia. Setelah beberapa minggu, aku berusaha mengungkapkan perasaanku lagi pad alia pas dia pulang kuliah. Tapi hanya jawaban yang sama yang aku dapat dari mulutnya. Akhirnya keputus asaanku membuat aku hampir menyerah untuk dapatkan sayangnya. Tapi teman – teman yang tau perasaanku ke lia terus menyuruhku berusaha dan berusaha. Setelah waktu berlalu, aku tembak dia untuk yang ke 3 (tiga) kalinya dirumahnya saat aku selesai minum dengan teman – teman di halaman rumahnya. Dan sialnya, untuk yang ketiga kalinya aku ditolak dia. Dan alasannya dia nolak aku dalah, dia tidak suka pacaran dengan cowok yang suka minum miras dan ngerokok. Dan saat itu aku bilang kalau aku akan berubah demi dia. Dia bilang aku gak ngerti dari dulu sikapnya ke aku. Sebenarnya dia juga sudah menaruh perasaan ke aku saat aku tembak dia untuk yang ke dua kali. Tapi apa dayaku sekarang dia sudah punya cowok. Dia udah jadian satu minggu sebelum aku tembak dia untuk yang ke tiga kalinya. Dan yang lebih buat aku terpukul adalah dia jadian sama temanku sendiri (hendrik) yang selalu dengerin curhatku. Aku bener – bener gak nyangka,…. Aku gak tau lagi apa yang harus aku katakan saat itu. Aku Cuma bisa meratapi nasib dan aku spontan banting hapeku. Dia ambil hapeku dan bilang kalau semua sudah terjadi,… Mulai saat itulah aku berusaha hilangkan kebiasaanku minum dan merokok… Teman – temannya nyindir aku dengan lagu dewa “baru ku sadari, cintaku bertepuk sebelah tangan”. Mulai saat itulah sedikit demi sedikit aku menghilangkan kebiasaanku itu. Dan seiring kebiasaanku berubah, hubunganku dengan lia semakin dekat. Aku merasa kalau lia sudah jadi pacarku. Aku sering jalan denganny ke berbagai tempat di bali. Dan yang paling seru adalah pas kita ke pelabuhan gilimanuk. Dengan bensin yang pas – pasan kami jalan dan dekat pelabuhan, bensinku habis dan kami pusing nyari tempat beli bensin. Gak ada pompa bensin di daerah itu, akhirnya aku beli bensin enceran di pinggir jalan. Dan kami gak jadi ke pelabuhan. Kami balik arah dan kami menuju pantai Lovina dan ngobrol banyak disitu. Aku senang saat bersamanya. Ingin rasanya aku selalu bisa bersamanya dan berdua dengannya. Aku pernah disuruh nganter ke kost hendrik, tapi aku disuruh nunggu di luar di pinggir jalan. Saat aku ingin mengajaknya kerumah, dia bilang kalau gak pantas cewek dating kerumah cowok. Lalu aku bilang apa ke kost cowok boleh, sementara kerumahku gak mau,……… Lalu dia mau ke rumahku dan aku kenalkan pada ortuku. Ortuku senang dengannya dan setelah aku antar dia pulang kerumahnya, ortuku nanya apa aku pacaran dengan lia,… Aku jawab tidak, kami baru deket ja. Dan ibu bilang kalau lia tu orangnya baik dan enak diajak ngobrol. Setelah itu aku sering ajak lia kerumah dan ibu pernah juga ajak lia untuk masak bareng dirumah.
Bersambung,………………. (akhirnya)


